Proyeksi Bisnis Kedai Kopi di 2022

Pandemi Corona di 2020 menyebabkan banyak industri mengalami perubahan mulai dari segi tren, rencana, hingga kebiasaan customer. Terutama di bisnis food and beverage seperti coffee shop.

Beberapa tahun terakhir, coffee shop menjadi tempat pertemuan yang populer di berbagai kalangan masyarakat, baik tua maupun muda.

Mereka sepakat untuk menjadikan coffee shop atau cafe sebagai meeting point untuk hangout, bekerja, meeting, bahkan acara formal dan informal lainnya. 

Hal ini berubah pesat di 2020, selain karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tentunya ada ketakutan orang-orang untuk berkumpul di luar rumah.

Muncul juga kebiasaan baru yaitu untuk tetap berada dan bekerja dari rumah sehingga kunjungan masyarakat ke coffee shop, cafe, hingga restoran menurun drastis. 

Dikutip dari Katadata, Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia, Moelyono Soesilo menyebutkan bahwa permintaan dan konsumsi kopi dari hulu hingga hilir menurun akibat pandemi. 

Di bagian hulu, permintaan kopi arabika dari sisi penjualan dalam negeri dan ekspor mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sementara di bagian hilir kebiasaan baru untuk tinggal, belajar, dan bekerja dari rumah menyebabkan kebiasaan orang menikmati kopi di coffee shop, hingga restoran juga menurun drastis.

Penurunan ini tidak hanya terjadi di dalam negeri tetapi juga secara global. Dilansir dari Kumparan, coffee shop internasional seperti Starbucks, JDE PEET’S, dan Dunkin mengalami penurunan 24% atau sekitar $36 miliar di tahun 2020. Hal ini menyebabkan banyak dari mereka menutup 208 dari total 37.189 kedai secara permanen di Amerika pada tahun yang sama. 

Di dalam negeri, coffee shop lokal dan international chain melakukan berbagai upaya untuk bisa bertahan. Salah satunya dengan merespon permintaan untuk konsumsi kopi di rumah yaitu dengan menyediakan fresh brewed coffee dalam bentuk literan. Contohnya adalah Starbucks, Maxx Coffee, Kopitagram, dan masih banyak lagi. Kopi dan minuman literan ini tidak hanya masuk ke ride hailing tetapi juga berbagai platform e-commerce

Menyambut 2022, para pelaku industri diperkirakan semakin inovatif dalam mengatur strategi bertahan. Di tahun ini, akan ada beberapa tren baru yang muncul di Indonesia. Salah satunya dengan menawarkan produk dengan harga terjangkau. Di kalangan coffee shop kelas menengah, mereka akan mulai meningkatkan kualitas dengan harga yang bersaing. 

Menurut Moelyono, kedepannya kopi-kopi premium akan hadir dengan harga yang wajar dan bisa dinikmati oleh kalangan yang lebih luas. Dengan penyesuaian yang cerdik seperti diversifikasi produk yang beragam, bisnis kopi kekinian serta konsep grab and go juga akan mampu bertahan. 

Menurut CEO Allegra Group (Studi Lembaga riset dan pemasaran), Jeffrey Young menyebutkan bahwa bisnis kedai kopi akan mulai stabil di musim panas 2021. Hal ini bisa terjadi dengan temuan vaksin Corona, terjadinya vaksinasi massal serta adaptasi para pelaku industri di era baru. Ia memperkirakan bahwa bisnis coffee shop akan kembali pulih ke kondisi sebelum pandemi di tahun 2023. 

Diolah dari berbagai sumber
Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Public Relations Toffin Indonesia di email auliaharyadi@toffin.id

Total
2
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Posts
Influncer Kedai Kopi

Tips Memanfaatkan Influencer Untuk Bisnis

Influencer seringkali dianggap sebagai pendorong pasar yang sukses di media sosial. Review mereka terhadap produk, makanan, hingga coffee shop membuat banyak pebisnis berbondong-bondong…
Read More